Gaya Kritik Lampung: Muhammad Alfariezie, Menyatukan Puisi dan Jurnalisme untuk Kritik Sosial

banner 468x60

MENTARI NEWS- Di ruang kelas SMK Samudera Bandar Lampung, Muhammad Alfariezie membentuk sebuah cara unik dalam menyampaikan kritik sosial melalui karya sastra. Lulusan FTIK Universitas Teknokrat Indonesia ini, yang juga pernah aktif di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS, menyebut pendekatan karyanya sebagai Gaya Kritik Lampung. Pendekatan ini merupakan penggabungan antara realisme, satire, dan puitis sosial yang dikemas dalam bentuk puisi tajam namun menyentuh.

Sebagai guru sekaligus jurnalis muda di Bandarlampung\_Pikiranrakyat, Alfariezie menyalurkan kritiknya melalui bait-bait yang menggambarkan ketimpangan sosial. Salah satu puisinya yang cukup menyita perhatian adalah *Bandar Lampung: 80 Miliar dan Sakitnya Rakyat Kecil*, yang menyoroti kontras antara kekayaan pejabat dan penderitaan masyarakat kecil.

banner 336x280

Puisi tersebut diawali dengan kalimat tajam:
“Teruslah bergerak tanpa mengindahkan undang-undang di dalam negeri hukum yang rakyatnya 283 juta orang.”

Kalimat ini merupakan contoh teknik *realism satire*, di mana data dan fakta sosial digabungkan dengan kritik langsung terhadap perilaku penguasa. Pesan yang disampaikan jelas: ada jarak yang sangat jauh antara regulasi dan kenyataan di lapangan, serta perilaku pejabat yang tampak bebas dari konsekuensi hukum.

Teknik kedua yang digunakan Alfariezie adalah *ironi metaforis*, terlihat pada bait:
“Uang puluhan miliar tak berlaku apapun di atas tanah yang bayi-bayinya busung lapar dan rumah sakitnya berjejal pasien yang muskil membeli dunkin donuts.”

Di sini, efek kontras antara kemewahan dan penderitaan rakyat kecil membentuk gambaran yang kuat secara emosional. Penggunaan metafora makanan mewah dibandingkan dengan kondisi kesehatan masyarakat yang memprihatinkan menjadi kritik sosial yang menyentuh hati pembaca.

Selain itu, puisi ini juga mengandung elemen *hipotetis atau spekulatif*, seperti pada bait:
“Seperti di Bandar Lampung, walikotanya menyiakan uang mungkin hingga 80 miliar.”

Pernyataan ini menyisipkan dugaan sinis terhadap kebijakan yang belum tentu terukur, sekaligus menimbulkan kesan skeptis terhadap manajemen anggaran di pemerintahan daerah. Teknik ini memperkuat pesan kritis sekaligus memberi ruang bagi pembaca untuk merenung.

Aspek *kontras atau pertentangan* juga tampak jelas pada kalimat:
“Sementara mereka bebas naik turun mewah di sekitar warga yang seumur-umur enggak sanggup membeli pizza.”

Kontras ini menyoroti jurang sosial yang lebar antara pejabat dan rakyat kecil, serta menimbulkan rasa keadilan yang timpang.

Terakhir, *puitis sosial* menjadi benang merah dari seluruh karya Alfariezie. Ungkapan seperti “tanah yang bayi-bayinya busung lapar” tidak hanya sekadar metafora, tetapi juga sarana untuk menyentuh emosi pembaca, memperlihatkan kepedihan dan ketidakadilan yang dialami masyarakat.

Kehidupan sehari-hari Muhammad Alfariezie adalah guru, namun di malam hari ia menekuni dunia jurnalisme, menulis berita yang objektif dan berbasis fakta. Di sela-sela aktivitas tersebut, ia menciptakan puisi-puisi yang menjadi wadah kritik sosial. Menurutnya, jurnalisme memberikan data dan fakta yang akurat, sedangkan puisi memberi kebebasan berekspresi tanpa batasan. “Ketika digabung, lahirlah apa yang saya sebut Gaya Kritik Lampung,” ujarnya.

Pendekatan ini menjadi inspirasi bagi generasi muda di Lampung untuk melihat sastra sebagai alat perjuangan sosial. Alfariezie membuktikan bahwa melalui puisi, pesan kritis dapat tersampaikan dengan cara yang lebih halus, namun tetap kuat dan relevan dengan kondisi masyarakat. Ia menegaskan bahwa menulis bagi dirinya adalah bentuk keberanian melawan ketidakadilan sekaligus sarana mendidik publik agar lebih peka terhadap isu sosial.***

banner 336x280